Ayo Jaga Surabaya Dari Bahaya Radikalisme

Polri tidak akan pernah memberikan ruang atau nafas buat para Radikalis , intoleran dan juga premanisme di Surabaya serta di Nusantara,. tindakan brutal yang selalu mengatasnamakan agama, dimana selalu digaungkan oleh para radikalis, padahal tidak ada satupun dalam konteks ajaran agama untuk mengajarkan tindakan tindakan brutal seperti Radikalisme ataupun Premanisme.

Kapolri Jenderal Idham Aziz M.Si Secara lantang menyatakan bahwa Polri tidak akan lengah dan juga takut untuk melawan para radikalisme dan premanisme serta inotoleran yang selalu dan seringkali memberikan rasa takut dan juga meresahkan masyarakat indonesia.

Senada dengan pernyataan Kapolri Jenderal Idham Aziz terkait masalah Radikalisme, intoleran dan juga permanisme. Di Kota Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan dimana saat ini Tongkat komando kepolisisan wiliayah Kota Besar Surabaya dipegang oleh putra asli papua Kombes. Pol. Jhonny Edison Isir, S.I.K., M.T.C.P. juga menyatakan hal yang sama.

Kami tidak akan pernah memberikan ruang untuk para Radikalisme, Intoleran, serta Premanisme bisa bernafas di Kota Surabaya ” papar Kombes Isir, dalam hal ini seluruh anggota kepolisian Wilayaha kota besar surabaya akan tetap semangat menjaga kota surabaya dari ancaman dan tindakan tindakan anarkis yang selalu dilakukan oleh orang orang tidak bertanggung jawab dengan tujuan untuk membuat masyarakat resah dan Takut

Cegah Cluster Baru Covid-19 Saat Pilkada Serentak 2020, Polri Keluarkan Surat Telegram

Jakarta – Kepolisian Negara Republik Indonesia mengeluarkan Surat Telegram Kapolri Nomor ST/2607/IX/OPS.2./2020 tertanggal 7 September 2020 untuk memperkuat upaya pencegahan agar Pilkada 2020 tidak menjadi klaster baru penyebaran COVID-19.

Surat Telegram yang ditandatangani atas nama Kapolri oleh Kabaharkam Polri, Komjen Pol Agus Andrianto, selaku Kaopspus Aman Nusa II-Pencegahan COVID-19 Tahun 2020 tersebut, ditujukan kepada para Kasatgas dan Kasubsatgas Opspus Aman Nusa II-2020, serta para Kaopsda dan Kaopsres Aman Nusa II-2020.

“Pelaksanaan tahapan Pilkada 2020 sudah memasuki tahapan penetapan Paslon dan menuju masa kampanye, di mana kedua tahapan tersebut akan menyebabkan interaksi masyarakat secara langsung antara penyelenggara Pilkada, peserta Pilkada, dan masyarakat pemilih yang berpotensi menyebabkan munculnya klaster baru COVID-19. Oleh karena itu, sesuai arahan pimpinan Polri, kita perkuat pencegahannya,” kata Komjen Pol Agus Andrianto, Selasa, 8 September 2020.

Selain itu, lanjut Komjen Pol Agus Andrianto, Surat Telegram tersebut juga diterbitkan dengan maksud memperkuat pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat (Harkamtibmas) pada setiap tahapan pelaksanaan Pilkada 2020.

Dalam Surat Telegram tersebut tertuang perintah kepada pr Kapolda dan Kapolres, untuk:

1. Bersinergi, berkoordinasi, dan berkolaborasi dengan KPU, Bawaslu, Pemda, TNI, dan stakeholder terkait pelaksanaan Pilkada 2020 ini agar berjalan dengan aman, damai, dan sejuk, serta aman COVID-19.

2. Mempelajari dan memahami peraturan KPU Nomor 5, 9, dan 10 Tahun 2020 terkait penerapan protokol kesehatan pada setiap tahapan Pilkada 2020 khususnya tentang pembatasan jumlah peserta kampanye (Rapat Umum maksimal 100 orang, Ratas maksimal 50 orang, debat maksimal 50 orang, dan lain-lain).

3. Melakukan penggalangan kepada seluruh Paslon gubernur, walikota, bupati, dan Parpol untuk mendeklarasikan komitmen untuk mematuhi protokol kesehatan pada setiap tahapan Pilkada Tahun 2020.

4. Melakukan kembali sosialisasi penerapan protokol kesehatan secara masif dengan melibatkan influencer, youtuber, artis, Tomas, Toga, dan lain-lain yang membumi (diterima/didengar oleh masyarakat sekitar) dengan menggunakan pendekatan secara formal maupun informal.

5. Meningkatkan pelaksanaan patroli cyber dalam mencegah penyebaran hoax, black campaign, hate speech, dan pelanggaran lainnya (sebagai contoh kampanye pada masa tenang) mengingat di masa pandemi ini penggunaan teknologi informasi sebagai media kampanye akan meningkat.

“Surat Telegram ini bersifat perintah untuk dilaksanakan,” tegas Komjen Pol Agus Andrianto.

Sebelumnya, Polri juga telah membahas penguatan pencegahan agar Pilkada 2020 tidak menjadi klaster baru penyebaran COVID-19 bersama Bawaslu dan KPU lewat rapat video conference (Vicon) pengecekan kesiapan pengamanan Pilkada 2020.

peningkatan disiplin kepada warga yang tidak menggunakan masker.

Himbauan pada hari Senen tanggal 7 September 2020 patroli jalan kaki yang dilakukan oleh Polsek Kalisat bersama Koramil kalisat dan Pol PP kecamatan Kalisat.

TNI-Polri dan Pol PP melakukan himbauan dan sosialisasi peningkatan disiplin protokol kesehatan kepada warga masyarakat Kalisat yang tidak menggunakan masker.

Sasaran yang di tuju para pedagang kaki lima dan kafe yang terdapat kerumunan masa dan warga yang tidak mengunakan masker dengan memberikan teguran yang sifatnya humanis bersahabat sebagai implementasi Inpres no 6 tahun 2020.

Kegiatan ini merupaka bentuk keseriusan pemerintah dalam mendisiplinkan masyarakat agar membiasakan menggunakan masker sesuai protokol kesehatan untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona di saat pandemi covid-19 yang belum berakhir.

Pemilik Sabu Ditangkap, Polrestabes Surabaya Telusuri Jaringannya

Peredaran narkotika jenis sabu-sabu kembali digagalkan Satresnarkoba Polrestabes Surabaya. Petugas menangkap tersangka SI, 44, yang membawa lima gram sabu-sabu pada Senin (31/8). Penangkapan dilakukan di depan kantor cabang Bank BCA Jalan Kapas Krampung Surabaya. Tersangka adalah warga Surabaya yang tinggal di Jalan Jagiran, Tambaksari.

”Dalam kasus ini, tersangka diduga melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum, menjual, menjadi perantara, menyerahkan atau menerima narkotika golongan 1, yakni sabu-sabu,” ujar Kasatresnarkoba AKBP Memo Ardian pada Senin (7/9).

Menurut Memo, tersangka juga diduga memiliki atau menyediakan narkotika jenis sabu-sabu itu. Pekerja swasta itu ditangkap petugas dengan barang bukti yang turut diamankan berupa sepuluh plastik klip berisi narkotika jenis sabu-sabu. Berat total sabu-sabu itu 19,22 gram berikut pembungkusnya, satu timbangan elektrik, 1 sekop, serta sendok plastik.

”Kami akan melakukan pemeriksaan untuk menelusuri jaringan tersangka atau pengguna narkoba lainnya,” terang Memo.

Terkait hal tersebut, Memo menambahkan, petugas akan melakukan penyidikan lebih lanjut sekaligus melakukan penahanan tersangka di rumah tahanan (rutan) Polrestabes Surabaya. Atas penangkapan itu, tersangka dijerat pasal 114 ayat (2) dan pasal 112 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. SI terancam hukuman minimal 6 tahun penjara.

Modus Mampu Mengobati Orang Kena Guna-Guna, Anak Teman Sendiri Digauli

Sepekan terakhir dua kasus pencabulan terjadi di wilayah hukum Polresta Mataram. Modusnya, mengaku sebagai orang pintar yang dapat menyembuhkan ragam persoalan.

Para pelaku pencabulan memiliki beribu cara untuk mendapatkan mangsa. Salah satunya menyamar menjadi dukun.

”Saya hanya dimintai tolong sama bapaknya untuk mengobatinya supaya tidak melihat makhluk gaib,” kata tersangka kasus pencabulan berinisial B saat diwawancara.

Pelaku dan orang tua korban cukup dekat. Dia kerap bertamu ke rumahnya, Pejeruk, Ampenan, Mataaram.

Hal itu dimanfaatkan B untuk melancarkan aksinya. ”Bapaknya (korban) bercerita ke saya kalau anaknya sering diganggu dan saya dimintai tolong mengobati,” ungkapnya seperti dikutip Lombok Pos, Senin (7/9).

Saat ke rumahnya, pelaku kerap melihat korban. Dia pun kepincut dengan anak temannya yang baru beranjak remaja.

Pria berusi 43 tahun itu sebelumnya tidak pernah melakukan pengobatan, tiba-tiba mengaku sebagai dukun. Karena, hubungan dekat orang tuanya pun percaya.

Pelaku pun meminta menjalankan ritual. Menyiapkan bahan-bahannya. ”Saya memintanya untuk menyiapkan tebu sirih, dan kencur,” jelasnya.

Ritual itu dilakukan di dalam kamar. Tanpa ada orang yang melihat. Namun modusnya terbongkar tanpa sengaja saat kakak korban tiba-tiba membuka pintu. ”Saat itu saya hanya buka setengah bajunya, belum saya apa-apakan,” akunya.

Kakak korban teriak saat membuka pintu kamar. Teriakan itu mengundang massa. Pelaku nyaris dihakimi massa. ”Dari situ saya dibilang melakukan pencabulan. Padahal saya hanya mengobati,” kelitnya.

”Saya menyesal,” ungkapnya.

Modus serupa juga dilakukan JMR alias Jon yang memangsa gadis SMA. Modusnya juga menyamar sebagai dukun.

”Saya sering ngojek sama bapaknya (korban). Sering juga saya ke rumahnya,” kata Jon.

Jon sudah lama menduda. Ia pun jatu suka kepada korban. ”Ya, saya tertarik dengan anak itu,” akunya.

Sempat, bapak korban bercerita dengannya. Kondisi ekonominya tidak baik. “Bapaknya mengeluh kalau dia butuh uang,” ujarnya.

Nah, sejak bapaknya kepepet kebutuhan ekonomi, Jon yang profesinya hanya sebagai kuli bangunan, tiba-tiba mengaku dirinya sebagai dukun. Dia mengaku bisa menggandakan uang hingga Rp 500 juta. ”Sebenarnya saya tidak bisa menggandakan uang,” bebernya.

Setelah itu, Jon merayu orang tua korban. Dia mengatakan bisa membuat anaknya lebih cantik dan auranya bisa memikat lelaki. ”Saya bilang ke bapaknya kalau anaknya cantik bisa mendatangkan rejeki,” ungkap Jon.

Bapak korban pun percaya rayuan Jon. Dia meminta melakukan ritual. ”Saya minta siapkan air putih dana kunyit,” kata dia.

Sejak ritual dilakukan, Jon berkesempatan melancarkan nafsunya. ”Saya hanya pegang saja. Belum sempat saya apa-apakan,” ungkapnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram (LPA) Mataram Joko Jumadi mengatakan, masa pandemi ini membuat ekonomi masyarakat makin sulit. Psikologisnya terganggu. ”Jadi, orang gampang percaya,” ujarnya.

Meskipun rayuan dan tawaran itu tidak masuk akal. Karena stres dan psikisnya terganggu sehingga tawaran yang tidak masuk akal itu diterima. ”Apalagi, masyarakat sekarang membutuhkan uang instan dan banyak,” kata Joko.

Persoalan seperti itu mesti diantisipasi semua masyarakat. Jangan sampai tertipu dengan dukun cabul yang ingin melancarkan aksinya. ”Kita harus lebih waspada,” imbaunya.

Joko mengatakan, kasus pencabulan meninggi di masa pandemi. Peningkatannya sekitar 60 persen.

Polda NTB mencatat sejak Januari hingga Juli ada sekitar 38 kasus yang ditangani. Berkaca pada periode yang sama di tahun 2019, Polda NTB hanya menangani sekitar 22 kasus pencabulan. ”Ini yang coba kita tekan,” ujarnya.

Menurutnya, bukan hanya orang dewasa saja yang melakukan itu. Ada juga kasus pencabulan yang melakukannya anak dibawah umur. ”Pelakunya anak berusia 13 tahun. korbannya juga berusia 13 tahun,” jelasnya.

Kasus seperti itu baru terjadi di masa pandemi. Biasanya pelaku pencabulan itu dilakukan oleh orang dewasa. ”Fenomena ini harus disikapi masyarakat. Jangan sampai anaknya menjadi korban maupun pelaku,” ucapnya.

Joko menjelaskan, kebutuhan smartphone terhadap anak di masa pandemi cukup tinggi. Apalagi, saat ini anak belajar melalui daring. ”Sehingga, perlu pengawasan yang serius dari masing-masing orang tua,” tutupnya.

Anak Kampung Pintar Di Kota Pahlwan Dapat Sebuah Perhatian Khusus

Hari minggu pagi saat hari libur dan anak anak santai bermain di dalam kampung, mendapat kunjungan dari Bripka Sugeng Bhabinkamtibmas kelurahan Bubutan Polrestabes Surabaya.

Sosok polisi satu ini sudah tidak asing bagi anak anak di kampung pintar Tembok Gede Surabaya, terbukti begitu Bripka sugeng masuk kampung anak anàk sudah menyapa pak sugeng datang pak sugeng datang dan menghanpiri mengajak salaman.

Salaman ala komando pun juga di ajarkan Bripka Sugeng saat berjumpa dan ada juga yang celetuk di gawe onok pak sugeng, dan lari ke rumah mengambil masker.

Ada Kedekatan Bhabinkamtibmas dengan warga sangat Tembok Gede baik para kader Pkk maupun bapak bapak bahkan anak anak di kampung.

Kesempatan sambang di manfaatkan Bripka sugeng untuk mengajarkan pada warga dan anak anak untuk disiplin memakai masker dan setelah anak anak tertib masker di ajak senda gurau ringan oleh Bhabinkamtibmas dengan disisipi pesan edukasi agar anak anak selalu pakai masker dan mencuci tangan saat selesai bermain.

Kampung Pintar Tembok Gede Surabaya yang awalnya terkenal kampung zona merah namun dengan kedisiplinan warga saat ini sudah banyak yang sembuh dan terbebas Covid 19 (05/08/2020)

Dugaan Penyalahgunaan Narkoba, Reza Artamevia Masih Diperiksa Polisi

Mantan istri Adjie Massaid, Reza Artamevia menambah panjang daftar artis Tanah Air yang terjerat kasus penyalahgunaan obat terlarang.

Reza Artamevia diamankan polisi pada Jumat (4/9/2020). Kabar ini telah dibenarkan oleh Kabid Humas Polda Metro Jaya saat dikonfirmasi.

“Diamankan, diduga. Iya, kalau tanya saya, RA pokoknya, diduga,” kata Kombes Pol Yusri Yunus melalui sambungan telepon pada Sabtu (5/9/2020) sore.

Sayangnya, polisi belum bisa megungkap detail mengenai barang bukti termasuk kronologi kejadiannya. Sebab, Reza Artamevia masih menjalani peroses pemeriksan.

“Sampai sekarang baru diamankan. Masih dalam pemeriksaan,” ucapnya.

Polisi baru akan melakukan rilis kasus ini beberapa hari ke depan, apabila informasi yang diperoleh telah lengkap.

“Senin lah baru (rilis). Kami rangkai dulu,” Kombes Pol Yusri Yunus mengakhiri.

Ini bukan kali pertama Reza Artamevia terjerat kasus serupa. Ia juga pernah berurusan dengan polisi karena narkoba pada 2016.

Kala itu, ibu dua anak ini ditangkap bersama Gatot Brajamusti yang saat ini menjadi narapidana tiga kasus sekaligus. Yaitu, kepemilikan senpi ilegal, kasus tindak asusila dan narkoba.

Kisah Polisi Membagikan Sayur Gratis dari Kampung ke Kampung

Jiwa sosial seorang polisi di Jember, Jawa Timur ini patut ditiru. Sebelum pandemi Covid-19 dan masa transisi new normal, ia dengan tulus membagikan sayur dari kampung ke kampung.

Bripka Totok Widarto, anggota Polsek Mumbulsari, Jember ini tidak meminta bayaran bagi masyarakat miskin yang terdampak Covid-19. Menggunakan sepeda motor dari kampung ke kampung dan dengan biaya sendiri, Totok mengaku kasihan melihat warga miskin tidak memiliki pendapatan.

Hampir setiap hari kala Totok pergi ke kantornya, tidak lupa membawa sekeranjang sayuran dari rumahnya. Kemudian dibagikan kepada masyarakat miskin di kawasan menuju kantor Polsek Mumbulsari.

Usai sholat Subuh, totok bergegas ke Polsek Mumbulsari dengan membonceng satu tas penuh sayuran. Kadang kala, ia juga membawa serta bothok (sayuran matang di bungkus daun) atau kerupuk yang juga di bagi bagikan kepada masyarakat miskin.

Tak pelak, sayuran yang dibawa Totok langsung habis tak kurang dari seperempat jam. Ia kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke kantornya untuk menjalankan tugas pokok sehari hari sebagai anggota polisi.

SAYUR GRATIS BUAT YANG GUNAKAN MASKER

cara unik di lakukan Bhayangkara Pembina keamanan ketertiban Masyarakat (BHABINKAMTIBMAS) POLSEK BUBUTAN POLRESTABES SURABAYA Bripka Sugeng, dalam mengajak warga meningkatkan ketaatan dan kedisiplinan menjalankan protokol Kesehatan dalam rangka pencegahan penyebaran Covid 19 di wilayak Surabaya.

Dengan memberikan sayur gratis untuk warga masyarakat yang gunakan masker kususnyan para Ibu ibu di Kampung Tangguh Rw.05 Maspati Surabaya

Program pembagian sayur gratis sudah ke sekian kali di wilayah kelurahan Bubutan setiap jumat sebagai kelanjutan program program sebelumnya yang telah di lakukan Bripka Sugeng yaitu bagi nasi Bungkus Gratis.

Dalam massa pandemi Covid 19, untuk memacu kedisiplinan dan ketaatan para warga akan pentingnya protokol kesehatan maka Bripka Sugeng mengambil langkah pembinaan dengan memberikan sayur gratis pada warga yang sudah disiplin memakai masker.

Walaupun hanya sekedar sayur, pemberian secara gratis salah satu bentuk apresiasi dan reward pada warga yang telah disiplin gunakan masker, cara ini lebih efektif bagi menumbuhkan kesadaran pribadi dari warga masyarakat binaan.

Program pembagian sayur gratis sebagai bentuk implementasi Inpres No. 6 tahun 2020, Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan Dalam Pencegahan dan Pengendalian Corona Virus Disease 2019. 04/09/2020(Betha)

Never Ending War Against Drug, Bandar Sabu Kembali Tumbang di Kota Pahlawan

Komitmen Perang lawan Narkoba benar benar dijalankan Oleh Sat Resnarkoba Polrestabes Surabaya, Kepolisian Resort Kota Pahlawan ini berdasarkan Jejak Digital Tidak henti hentinya tumbangkan berbagai bentuk kejahatan dalam konteks narkoba, Wajar jika disurabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan, mulai dari jaman kemerdekaan hingga saat ini, para pion pion di Surabaya tetap berjuang pada jamannya masing masing.

Sosok Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian memang dikenal tidak ada ampun bagi Penjahat narkoba, padahal disisi lain sosok ini sangat suka dengan inovasi, mulai inovasi teknologi hingga inovasi yang saat ini Viral dengan nama Mobil Senyum

Berdasarkan informasi dari media resmi Polrestabes Surabaya, dalam hal ini Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Johnny Eddizon Isir baru baru ini telah rilis ungkap kasus narkotika jenis sabu sebesar 17,05 kg di lapangan A Mapolrestabes Surabaya, dan dilaksanakan pada hari Kamis (03/09/2020).

Tersangka sebanyak orang tersebut mempunya nama atau berinisial ZD (47), LA (27), NV (24), RC (26), BS (36), MF (32) berhasil di ringkus oleh Satres narkoba Polrestabes Surabaya , Sementara dua orang atau tersangka lainnya terpaksa di tembak mati karena sangat membahayakan dan juga melawan petugas saat akan ditangkap..

Dalam kesempataan Release kasus narkoba Kombes Isir juga menegaskan yang mungkin bisa dikatakan dengan semangat 45 , secara lantang mengucapkan dalam bahasa inggris , Polrestabes Surabaya “Never ending war against drug!

Baca Juga Artikel Kesehatan :

Manfaat Bioglass

Mci Indonesia