Jogo Suroboyo : Tidak Ada Ruang Radikalisme dan Premanisme di Surabaya

Halodunia.net – Polri tidak akan pernah memberikan ruang atau nafas buat para Radikalis , intoleran dan juga premanisme di Surabaya serta di Nusantara,. tindakan brutal yang selalu mengatasnamakan agama, dimana selalu digaungkan oleh para radikalis, padahal tidak ada satupun dalam konteks ajaran agama untuk mengajarkan tindakan tindakan brutal seperti Radikalisme ataupun Premanisme.

Kapolri Jenderal Idham Aziz M.Si Secara lantang menyatakan bahwa Polri tidak akan lengah dan juga takut untuk melawan para radikalisme dan premanisme serta inotoleran yang selalu dan seringkali memberikan rasa takut dan juga  meresahkan masyarakat indonesia.

Senada dengan pernyataan Kapolri Jenderal Idham Aziz terkait masalah Radikalisme, intoleran dan juga permanisme. Di  Kota Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan dimana saat ini Tongkat komando kepolisisan wiliayah Kota Besar Surabaya dipegang oleh putra asli papua Kombes. Pol. Jhonny Edison Isir, S.I.K., M.T.C.P.  juga menyatakan hal yang sama.

Kami tidak akan pernah memberikan ruang untuk para Radikalisme, Intoleran, serta Premanisme bisa bernafas di  Kota Surabaya ” papar Kombes Isir, dalam hal ini seluruh anggota kepolisian Wilayaha kota besar surabaya akan tetap semangat menjaga kota surabaya dari ancaman dan tindakan tindakan anarkis yang selalu dilakukan oleh orang orang tidak bertanggung jawab dengan tujuan untuk membuat masyarakat resah dan Takut

 

Baca Juga Artikel Kesehatan

Bioglass untuk Kesehatan

Bioglass Berikan Manfaat Ajaib

Aksi Begal Bacok Korban Demi Sebuah HP

Aksi pembegalan kembali terjadi di Jalan Gg Betet Tambora, Jakarta Barat pada Sabtu (5/9) sekira pukul 23.00 WIB. Pelaku diketahui berjumlah sekitar 3 orang menggunakan sepeda motor jenis. Para pelaku ini tak segan-segan melukai korbannya dengan senjata tajam.

Akibat peristiwa ini, korban Kelvin Saputra, 15, mengalami luka bacok pada dada sebelah kiri, dan harus kehilangan telepon genggamnya.

Kapolsek Tambora Kompol Iver soon Manosoh mengatakan, usai dilakukan pengejaran, petugas berhasil menangkap pelaku. Pelaku teridentifikasi usai penyidik mencari informasi disekitar TKP, dan memeriksa korban.

Salah satu pelaku yang teridentifikasi adalah RA, 19. Dia diektahui seorang pengangguran. Pelaku adalah warga yang tinggal disekitar lokasi pembegalan.

“Pelaku dalam melakukan aksinya tidak segan-segan melukai korbannya, saat melancarkan aksinya pelaku membekali dirinya dengan senjata tajam dan menakut-nakuti korbanya dengan senjata korek api jenis revolver,” ujar Iver Soon kepada wartawan, Senin (7/9).

Dalam penangkapan ini, petugas menyita barang bukti berupa 1 senjata tajam jenis celurit bergagang kayu, 1 pucuk senjata mainan korek api dan 1 unit telepon genggam milik korban.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Tambora Polres Metro Jakarta Barat AKP Suparmin menambahkan, pihaknya masih melakukan pengembangan kasus tersebut. Saat ini aparat masih mengejar 2 pelaku pembegalan lainnya yang masih buron.

“Dari total pelaku sebanyak 3 orang, 1 orang pelaku sudah berhasil kami amankan sementara ke dua pelaku lainnya pihaknya masih terus melakukan pengejaran terhadap pelaku,” kata Suparmin.

Respon Cepat Polsek Tegalsari Dalam Ungkap Pelaku Curanmor

Dalam rangka pemantapan pemeliharaan keamanan dan ketertiban, petugas meningkatkan keamanan berbagai wilayah di Kota Surabaya. Hasilnya, petugas menangkap tersangka pencurian dengan pemberatan pada Selasa (1/9). Pelaku yang juga residivis pencurian motor itu ditangkap atas laporan Sukina, 53, warga Bangkalan.

Tersangka, Iwan Mashudi, 32, merupakan warga Sidorukun. Dia baru dibebaskan dari Lapas Lamongan pada 19 Agustus.

”Dalam aksi ini, dia dibantu tersangka lain, yakni Giyanto, 37, yang merupakan warga Blauran Kidul 1. Giyanto merupakan residivis yang baru keluar dari Lapas Trenggalek pada 4 Agustus,” ujar Kanitreskrim Polsek Tegalsari Iptu I Made Gede Sutayana pada Senin (7/9).

Dalam penangkapan itu, petugas mengamankan beberapa barang bukti. Di antaranya 1 unit motor Nopol L 4990 TB, uang tunai Rp 1.500.000, 1 gerinda mesin, kunci T, kunci Y, kikir, serta 3 kunci L ujung pipih.

I Made Gede Sutayana mengatakan, aksi pencurian pada Selasa (1/9) ketika korban bersama keponakannya mengunjungi rumah saudaranya di Kupang Panjaan. Korban memarkir motor di teras. ”Tidak berselang lama, keponakan korban keluar dan mendapati motornya sudah hilang,” terang I Made Gede Sutayana.

Untungnya, aksi pencurian tersebut terekam CCTV. Korban pun langsung melapor ke Polsek Tegalsari. Laporan langsung ditindaklanjuti dengan cek tempat kejadian perkara (TKP). Petugas langsung mengungkap identitas dua tersangka curanmor itu.

Sebagai langkah berikutnya, lanjut I Made Gede Sutayana, petugas melakukan pengejaran berbekal informasi identitas pelaku. Tanpa kesulitan berarti gerak cepat itu berhasil membekuk pelaku. Pihaknya masih melakukan pemeriksaan untuk mengungkap jaringan dan penadahnya. ”Kasis ini masih dilakukan penyidikan lebih lanjut,” ujar I Made Gede Sutayana.

Jika Tidak Penuhi Panggilan Polisi, Hadi Pranoto Bakal Dijemput Paksa

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya memberikan tenggat waktu sepekan ini untuk Hadi Pranoto agar memenuhi panggilan pemeriksaan. Sebab, Hadi sudah dua kali gagal diperiksa oleh penyidik.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus mengatakan, saat ini penyidik masih melakukan koordinasi dengan pengacara Hadi. Namun, ditargetkan minggu ini sudah bisa diperiksa.

“Minggu ini kita jadwalkan untuk HP itu, kami masih menunggu koordinasi dr pengacaranya tapi minggu ini untuk menghadirkan HP,” kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jakarta, Senin (7/9).

Yusri mengatakan, apabila Hadi tak kunjung memenuhi pamggilan penyidik, maka polisi akan melayangkan ultimatum. Jika tak kunjung dipenuhi, maka akan ada penjemputan paksa pada panggilan ketiga.

“Nanti akan kita ultimatum. Karena di dalam aturan pemanggilan ketiga yang adalah surat izin membawa,” jelas Yusri.

Sebelumnya, Musisi Anji selaku pemilik akun Dunia Manji dan Hadi Pranoto resmi dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid. Laporannya terdaftar dengan nomor LP/4358/VIII/YAN.2.5/2020/SPKT PMJ tertanggal 3 Agustus 2020.

“Hari ini sudah resmi dilaporkan ke pihak kepolisian pada pukul18.30 WIB. Ini terlapornya disebut di sini jelas ada nama Hadi Pranoto, si profesor yang kemudian di interview sebagai narsum di acara itu. kemudian yang kedua ada pemilik akun YouTube @Duniamanji,” terang Muannas Alaidid usai membuat laporan polisi di Polda Metro Jaya, Senin (3/8).

Keduanya dilaporkan dengan pasal menyebarkan berita bohong Pasal 28 ayat 1 Jo Pasal 45A Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 14 dan 15 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang KUHP.

Muannas melaporkan kasus ini dengan membawa serta transkrip wawancara Anji dengan Hadi Pranoto yang sempat diunggah di YouTube dengan durasi kurang lebih setengah jam. Ia menilai pernyataan Hadi sangat berbahaya apabila pernyataannya yang mengklaim telah menemukan obat penangkal Covid-19 ternyata tidak benar. Namun apabila terbukti benar,ia berpandangan harus diapresiasi.

Pemilik Sabu Ditangkap, Polrestabes Surabaya Telusuri Jaringannya

Peredaran narkotika jenis sabu-sabu kembali digagalkan Satresnarkoba Polrestabes Surabaya. Petugas menangkap tersangka SI, 44, yang membawa lima gram sabu-sabu pada Senin (31/8). Penangkapan dilakukan di depan kantor cabang Bank BCA Jalan Kapas Krampung Surabaya. Tersangka adalah warga Surabaya yang tinggal di Jalan Jagiran, Tambaksari.

”Dalam kasus ini, tersangka diduga melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum, menjual, menjadi perantara, menyerahkan atau menerima narkotika golongan 1, yakni sabu-sabu,” ujar Kasatresnarkoba AKBP Memo Ardian pada Senin (7/9).

Menurut Memo, tersangka juga diduga memiliki atau menyediakan narkotika jenis sabu-sabu itu. Pekerja swasta itu ditangkap petugas dengan barang bukti yang turut diamankan berupa sepuluh plastik klip berisi narkotika jenis sabu-sabu. Berat total sabu-sabu itu 19,22 gram berikut pembungkusnya, satu timbangan elektrik, 1 sekop, serta sendok plastik.

”Kami akan melakukan pemeriksaan untuk menelusuri jaringan tersangka atau pengguna narkoba lainnya,” terang Memo.

Terkait hal tersebut, Memo menambahkan, petugas akan melakukan penyidikan lebih lanjut sekaligus melakukan penahanan tersangka di rumah tahanan (rutan) Polrestabes Surabaya. Atas penangkapan itu, tersangka dijerat pasal 114 ayat (2) dan pasal 112 ayat (2) UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. SI terancam hukuman minimal 6 tahun penjara.

Modus Mampu Mengobati Orang Kena Guna-Guna, Anak Teman Sendiri Digauli

Sepekan terakhir dua kasus pencabulan terjadi di wilayah hukum Polresta Mataram. Modusnya, mengaku sebagai orang pintar yang dapat menyembuhkan ragam persoalan.

Para pelaku pencabulan memiliki beribu cara untuk mendapatkan mangsa. Salah satunya menyamar menjadi dukun.

”Saya hanya dimintai tolong sama bapaknya untuk mengobatinya supaya tidak melihat makhluk gaib,” kata tersangka kasus pencabulan berinisial B saat diwawancara.

Pelaku dan orang tua korban cukup dekat. Dia kerap bertamu ke rumahnya, Pejeruk, Ampenan, Mataaram.

Hal itu dimanfaatkan B untuk melancarkan aksinya. ”Bapaknya (korban) bercerita ke saya kalau anaknya sering diganggu dan saya dimintai tolong mengobati,” ungkapnya seperti dikutip Lombok Pos, Senin (7/9).

Saat ke rumahnya, pelaku kerap melihat korban. Dia pun kepincut dengan anak temannya yang baru beranjak remaja.

Pria berusi 43 tahun itu sebelumnya tidak pernah melakukan pengobatan, tiba-tiba mengaku sebagai dukun. Karena, hubungan dekat orang tuanya pun percaya.

Pelaku pun meminta menjalankan ritual. Menyiapkan bahan-bahannya. ”Saya memintanya untuk menyiapkan tebu sirih, dan kencur,” jelasnya.

Ritual itu dilakukan di dalam kamar. Tanpa ada orang yang melihat. Namun modusnya terbongkar tanpa sengaja saat kakak korban tiba-tiba membuka pintu. ”Saat itu saya hanya buka setengah bajunya, belum saya apa-apakan,” akunya.

Kakak korban teriak saat membuka pintu kamar. Teriakan itu mengundang massa. Pelaku nyaris dihakimi massa. ”Dari situ saya dibilang melakukan pencabulan. Padahal saya hanya mengobati,” kelitnya.

”Saya menyesal,” ungkapnya.

Modus serupa juga dilakukan JMR alias Jon yang memangsa gadis SMA. Modusnya juga menyamar sebagai dukun.

”Saya sering ngojek sama bapaknya (korban). Sering juga saya ke rumahnya,” kata Jon.

Jon sudah lama menduda. Ia pun jatu suka kepada korban. ”Ya, saya tertarik dengan anak itu,” akunya.

Sempat, bapak korban bercerita dengannya. Kondisi ekonominya tidak baik. “Bapaknya mengeluh kalau dia butuh uang,” ujarnya.

Nah, sejak bapaknya kepepet kebutuhan ekonomi, Jon yang profesinya hanya sebagai kuli bangunan, tiba-tiba mengaku dirinya sebagai dukun. Dia mengaku bisa menggandakan uang hingga Rp 500 juta. ”Sebenarnya saya tidak bisa menggandakan uang,” bebernya.

Setelah itu, Jon merayu orang tua korban. Dia mengatakan bisa membuat anaknya lebih cantik dan auranya bisa memikat lelaki. ”Saya bilang ke bapaknya kalau anaknya cantik bisa mendatangkan rejeki,” ungkap Jon.

Bapak korban pun percaya rayuan Jon. Dia meminta melakukan ritual. ”Saya minta siapkan air putih dana kunyit,” kata dia.

Sejak ritual dilakukan, Jon berkesempatan melancarkan nafsunya. ”Saya hanya pegang saja. Belum sempat saya apa-apakan,” ungkapnya.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Kota Mataram (LPA) Mataram Joko Jumadi mengatakan, masa pandemi ini membuat ekonomi masyarakat makin sulit. Psikologisnya terganggu. ”Jadi, orang gampang percaya,” ujarnya.

Meskipun rayuan dan tawaran itu tidak masuk akal. Karena stres dan psikisnya terganggu sehingga tawaran yang tidak masuk akal itu diterima. ”Apalagi, masyarakat sekarang membutuhkan uang instan dan banyak,” kata Joko.

Persoalan seperti itu mesti diantisipasi semua masyarakat. Jangan sampai tertipu dengan dukun cabul yang ingin melancarkan aksinya. ”Kita harus lebih waspada,” imbaunya.

Joko mengatakan, kasus pencabulan meninggi di masa pandemi. Peningkatannya sekitar 60 persen.

Polda NTB mencatat sejak Januari hingga Juli ada sekitar 38 kasus yang ditangani. Berkaca pada periode yang sama di tahun 2019, Polda NTB hanya menangani sekitar 22 kasus pencabulan. ”Ini yang coba kita tekan,” ujarnya.

Menurutnya, bukan hanya orang dewasa saja yang melakukan itu. Ada juga kasus pencabulan yang melakukannya anak dibawah umur. ”Pelakunya anak berusia 13 tahun. korbannya juga berusia 13 tahun,” jelasnya.

Kasus seperti itu baru terjadi di masa pandemi. Biasanya pelaku pencabulan itu dilakukan oleh orang dewasa. ”Fenomena ini harus disikapi masyarakat. Jangan sampai anaknya menjadi korban maupun pelaku,” ucapnya.

Joko menjelaskan, kebutuhan smartphone terhadap anak di masa pandemi cukup tinggi. Apalagi, saat ini anak belajar melalui daring. ”Sehingga, perlu pengawasan yang serius dari masing-masing orang tua,” tutupnya.

Never Ending War Against Drug, Bandar Sabu Kembali Tumbang di Kota Pahlawan

Komitmen Perang lawan Narkoba benar benar dijalankan Oleh Sat Resnarkoba Polrestabes Surabaya, Kepolisian Resort Kota Pahlawan ini berdasarkan Jejak Digital Tidak henti hentinya tumbangkan berbagai bentuk kejahatan dalam konteks narkoba, Wajar jika disurabaya dijuluki sebagai Kota Pahlawan, mulai dari jaman kemerdekaan hingga saat ini, para pion pion di Surabaya tetap berjuang pada jamannya masing masing.

Sosok Kasat Narkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian memang dikenal tidak ada ampun bagi Penjahat narkoba, padahal disisi lain sosok ini sangat suka dengan inovasi, mulai inovasi teknologi hingga inovasi yang saat ini Viral dengan nama Mobil Senyum

Berdasarkan informasi dari media resmi Polrestabes Surabaya, dalam hal ini Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Johnny Eddizon Isir baru baru ini telah rilis ungkap kasus narkotika jenis sabu sebesar 17,05 kg di lapangan A Mapolrestabes Surabaya, dan dilaksanakan pada hari Kamis (03/09/2020).

Tersangka sebanyak orang tersebut mempunya nama atau berinisial ZD (47), LA (27), NV (24), RC (26), BS (36), MF (32) berhasil di ringkus oleh Satres narkoba Polrestabes Surabaya , Sementara dua orang atau tersangka lainnya terpaksa di tembak mati karena sangat membahayakan dan juga melawan petugas saat akan ditangkap..

Dalam kesempataan Release kasus narkoba Kombes Isir juga menegaskan yang mungkin bisa dikatakan dengan semangat 45 , secara lantang mengucapkan dalam bahasa inggris , Polrestabes Surabaya “Never ending war against drug!

Baca Juga Artikel Kesehatan :

Manfaat Bioglass

Mci Indonesia

Dokter Terjerat Kasus Obat Bius Ilegal, Divonis 7 Bulan Penjara

Proses hukum terhadap dokter Irmatati Daleputri tuntas. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya menjatuhkan hukuman tujuh bulan penjara. Dokter Irma terbukti menjual obat bius hewan secara ilegal untuk digunakan manusia.

Bukan hanya pidana badan. Terdakwa juga diharuskan membayar denda Rp 10 juta. Jika tidak sanggup membayar, dia harus menjalani hukuman pidana sebulan kurungan. Vonis itu lebih ringan daripada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) Ahmad Muzakki yang menuntut 9 bulan penjara dan denda Rp 10 juta subsider 3 bulan kurungan.

”Mengadili, menyatakan terdakwa Irmatati Daleputri terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja mengedarkan sediaan farmasi yang tidak memiliki izin edar,” ujar Ketua Majelis Hakim Martin Ginting saat membacakan amar putusan.

Sementara itu, saat menjadi saksi untuk terdakwa William Surya Wardhana, dokter Irma mengungkapkan bahwa 10 botol obat ketamine 100 injectable solution yang dipesan adalah obat untuk hewan. Bukan untuk manusia. Obat tersebut berfungsi sebagai obat penenang bagi hewan.

”Dosis ketamine 15 botol itu bisa untuk 15 sapi sebagai obat penenang,” ungkap Irma saat bersaksi untuk terdakwa William Rabu (2/9).

Dia mengaku tidak tahu obat yang dipesan William tersebut disalahgunakan. Irma dikenalkan kepada William oleh pelanggannya. Yakni, seorang peternak bernama Joko. William memesan 15 botol kepada Irma yang masing-masing berisi 10 mililiter ketamine melalui pesan WhatsApp. Irma yang bekerja di perusahaan farmasi memesankan ketamine ke perusahaannya.

”Perusahaan yang kirim ke William. Saya hanya nurut perintah perusahaan. Joko bilang ke saya kalau William itu peternak. Makanya, saya kasih,” jelasnya.

Di pihak lain, terdakwa William mengaku membeli ketamine Rp 164 ribu per botol. Setelah dia membayar dengan mentransfer ke rekening Irma, obat itu langsung diantarkan ke alamat rumahnya di Jalan Kartini. Obat tersebut disalahgunakan dengan cara ditaruh di piring, lalu dibakar sampai menjadi serbuk kristal dan dihirup.

Jaksa Suparlan berpandangan lain. Dalam dakwaannya, jaksa menyebut terdakwa William sudah menyalahgunakan ketamine. Obat itu dikonsumsi bersama kolega-koleganya saat berpesta di salah satu diskotek di Jalan Embong Malang.

Jogo Suroboyo Bukan Sekedar Slogan, Bandar Sabu Kembali Tumbang Di Kota Pahlawan

Jogo Suroboyo bukan hanya sebuah slogan atau Seremonial, slogan Jogo Suroboyo benar benar di implementasikan oleh Satresnarkoba Polrestabes Surabaya, dimana sebuah komitmen Perang Melawan Narkoba , dalam hal ini Sat Resnarkoba Polrestabes Surabaya Kembali Tumbangkan Bandar Sabu

Polisi kembali menembak mati penjahat. Kali ini seorang bandar sabu dikirim ke akhirat karena melawan saat hendak ditangkap.
Pelaku berinisal DP ini disergap Unit II Satresnarkoba Polrestabes Surabaya yang dipimpim Iptu Danang Eko Arbianto. Dari tangan tersangka petugas mengamankan 15 kantong besar berisi sabu.

Pelaku juga diketahui memiliki anak buah yang telah diamankan pada kasus sebelumnya. Pelaku juga merupakan penyuplai bandar besar lainnya di Surabaya.

“Kami mendapatkan bandar besarnya yang saat ini kami lakukan tindakan tegas, keras dan terukur,” kata Kasat Resnarkoba Polrestabes Surabaya AKBP Memo Ardian saat dikonfirmasi , Rabu (2/9/2020).

Memo menambahkan pelaku melawan petugas dengan membawa senjata api, karena dirasa membahayakan petugas. Pelaku akhirnya ditembak hingga tewas.

“Saat akan diamankan, tersangka berusaha menyerang petugas menggunakan senjata api, karena sangat membahayakan keselamatan petugas, dengan terpaksa kami lakukan tindakan tegas,” lanjut Memo.

Petugas mencoba menyelamatkan pelaku dengan membawa ke rumah sakit, namun saat di perjalanan, nyawanya sudah tidak tertolong, akhirnya jenazah tersangka dibawa kerumah sakit Pusdik Porong.

Dari penangkapan ini, polisi mengamankan 15 bungkus besar berisi sabu, satu senapan laras panjang dan satu senjata api serta empat buah parang.

Baca Juga Artikel Kesehatan

Bioglass Mci

Mci Indonesia

 

Wakapolri Berangkat Satgas Protokol Covid-19 di Jatim

Komjen Gatot Eddy Pramono mengunjungi Polda Jawa Timur. Kunjungan ini sekaligus memberangkatkan satgas penegakan Inpres No 6 tahun 2020 tentang pendisiplinan protokol pencegahan COVID-19. Tak hanya itu, Gatot juga membagikan 1,5 juta masker di wilayah Jatim.

Di kesempatan ini, Gatot mengatakan masker harus menjadi gaya hidup baru masyarakat. Dia menyebut penggunaan masker penting untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dari penularan virus Corona.

“Oleh karena itu saya mengimbau ya teman-teman, gunakan masker. Pak Presiden menyampaikan ayo pakai masker, masker, masker. Saya selalu katakan itu sebagai gaya hidup dan menjadi budaya baru kita, kalau teman-teman ketinggalan handphone pasti bingung pulang ambil ya kan. Sama seperti masker,” kata Gatot di Mapolda Jatim Jalan Ahmad Yani Surabaya, Kamis (3/9/2020).

Hari ini juga dibagi sebanyak 1,5 juta masker untuk daerah Jawa Timur. Tentunya semua bergerak, tidak hanya polisi saja, karena penegakan disiplin itu gabungan TNI, Polri dan Satpol PP. Semuanya terlibat, seluruh komponen masyarakat, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda kemudian komunitas-komunitas terlibat semua,” imbuhnya.

Kepada anggota polisi, Gatot berpesan agar tak lelah memberikan edukasi dan sosialisasi pada masyarakat terkait pentingnya penggunaan masker. Karena,virus tidak pandang bulu dan bisa menyerang siapa saja.

Baca Juga

Wakapolri Ancam Copot 3 Jabatan Ini Jika Ada Anggota Meninggal karena Corona

Menurutnya, kesadaran dalam diri untuk menggunakan masker adalah hal yang paling penting untuk dibangun. Hal ini untuk memulihkan kondisi di Indonesia.

“Ini harus kita galakkan dari bawah sampau tingkat nasional. Nah kalau kesehatan kita ini pulih, maka ekonomi kita akan bangkit, jangan sampai kita menjadi daerah merah, harus kita turunkan ke zona oranye, kalau oranye turunkan menjadi kuning, lalu kuning jadi hijau, kalau hijau kita pertahankan terus seperti itu,” pesannya.

Tak lupa, Gatot juga berterima kasih dan menyampaikan apresiasi pada Kapolda Jatim Irjen M Fadil Imran. Apresiasi ini atas inisiasi Kampung Tangguh Semeru yang kini mulai diikuti di Polda-polda lain se-Indonesia.

“Kita apresiasi Kapolda, karena munculnya Kampung Tangguh itu pertama kali di Jawa Timur. Saya kira ini baik sekali dan sangat positif. Selain ini inovasi untuk pencegahan penyebaran COVID-19, tapi ini juga membantu secara sosial. Karena masyarakat kita yang terdampak melalui kampung tangguh bisa mengetahui masyarakat mana yang mendapatkan bantuan bantuan sosial,” papar Gatot.

“Di kampung tangguh bisa diketahui terdeteksi lebih awal kalau ada orang yang terpapar COVID-19 dan banyak sekali manfaatnya. Saya mengapresiasi beliau yang pertama sekali menginisiasi adanya Kampung tangguh, dan kini di beberapa Polda juga muncul kampung tangguh,” pungkasnya.