Klaim Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tentang wilayahnya telah menjadi zona hijau penularan virus corona (Covid-19) tidak sama dengan data milik Pemprov Jawa Timur. Menurut data Pemprov Jatim, Surabaya masih termasuk zona merah dengan risiko tinggi.

Risma sebelumnya mengklaim Surabaya telah menjadi zona hijau virus corona (Covid-19). Merujuk data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Risma menyebut tingkat penularan corona Surabaya sudah menurun dengan kesembuhan yang kian meningkat.

“Di mana kondisi Surabaya sudah [zona] hijau yang artinya penularannya kita sudah rendah. Lalu yang sembuh sudah banyak,” kata Risma mengutip siaran pers, Senin (3/8).

Berdasarkan peta resmi Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim diakses Senin (3/8) pukul 14.26 WIB, di infocovid19.jatimprov.go.id, Kota Surabaya masih menjadi zona merah penyebaran corona.

Pemprov Jatim mencatat ada 8.756 kasus positif di Kota Surabaya dan 2.219 suspek hingga 3 Agustus. Sebanyak 5.381 pasien dirawat, 2.599 pasien sembuh dan 776 meninggal dunia.

Dalam peta, Surabaya tampak berwarna merah dengan tingkat risiko tinggi. Peta Kota Surabaya masih berwarna merah seperti Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang Gresik, Kota Malang, Kota Batu dan Kota Mojokerto.

Data milik pemerintah pusat juga berkata demikian. Seperti terlihat pada situscovid19.go.id, Surabaya termasuk wilayah zona merah penularan virus corona.

Anggota Rumpun Kuratif Satuan Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Jatim, Jibril Makhyan Al Farabi mengatakan penentuan zona merah dalam peta Gugus Jatim itu harus mengikuti peta risiko yang dipublikasikan oleh Satgas Penanganan Covid-19 Nasional.

“Penentuan zona merah kuning hijau ini kan kewenangan dari Satuan Gugus Tugas Pusat. Penilaian ini juga bisa diakses di covid19.go.id/peta-risiko yang menunjukkan warna zona tiap kabupaten dan kota,” kata Jibril saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Senin (3/8).

Setidaknya ada sejumlah indikator yang menjadi faktor penilaian status zona di sejumlah daerah. Di antaranya indikator epidemiologi, indikator surveilans dan indikator kesehatan masyarakat. Berikut detailnya.

  1. Penurunan jumlah kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  2. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  3. Penurunan jumlah meninggal dari kasus positif selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  4. Penurunan jumlah meninggal dari kasus ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  5. Penurunan jumlah kasus positif yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  6. Penurunan jumlah kasus ODP dan PDP yang dirawat di RS selama 2 minggu terakhir dari puncak (target ≥50%)
  7. Kenaikan jumlah sembuh dari kasus positif selama 2 minggu terakhir
  8. Kenaikan jumlah selesai pemantauan & pengawasan dari ODP dan PDP selama 2 minggu terakhir
  9. Penurunan laju insidensi kasus positif per 100,000 penduduk
  10. Penurunan angka kematian per 100,000 penduduk
  11. Jumlah pemeriksaan spesimen meningkat selama 2 minggu
  12. Positivity rate <5% (dari seluruh sampel yang diperiksa, proporsi positif hanya 5%)
  13. Jumlah tempat tidur di ruang isolasi RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah pasien positif COVID-19
  14. Jumlah tempat tidur di RS Rujukan mampu menampung s.d >20% jumlah ODP, PDP, dan pasien positif COVID-19
  15. Rt – Angka reproduksi efektif

Di lihat dari sejumlah indikator tersebut, Jibril mengatakan bahwa jumlah kasus baru di Surabaya memang mulai menurun. Tingkat kesembuhan juga meningkat. Meski demikian, masyarakat Surabaya harus tetap waspada dan meningkatkan protokol kesehatan.

“Pada dasarnya memang kesembuhan di Surabaya meningkat dan kasus baru mulai menurun. Artinya tetap harus waspada dan tidak boleh lengkah untuk menerapkan protokol kesehatan,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here