Telapak ganda.
Jejak bernas bertanda
dokter pewarta.

Halodunia.net – Surat kabar yang baru saja terbit perdana pada awal 1900 itu sudah bikin riuh. Pewarta Wolanda, nama koran tersebut, memuat tulisan-tulisan tangkas Abdul Rivai untuk melawan klaim A.A. Fokker, seorang pejabat kolonial Hindia Belanda. Fokker dengan percaya diri menyebut bahwa dirinya lebih fasih berbahasa Melayu ketimbang orang Melayu sendiri.

Tidak terima dengan klaim Fokker, Rivai yang saat itu berada di Amsterdam lantas mengkritisinya lewat tulisan. Keduanya pun saling berbalas serang melalui koran. Sepulangnya ke tanah air setahun berselang, Rivai menantang Fokker untuk bertarung di arena debat. Rivai yang memang orang Melayu asli dengan lihai menelanjangi lawannya.

Fokker yang nyaris selalu tersudut dalam perdebatan itu hilang kendali. Ketangkasan Rivai tidak sanggup dibalasnya dengan argumen yang sepadan. Hingga akhirnya, orang Belanda itu berdalih di ambang kekalahannya dengan berkata, “Seorang Belanda tidak boleh berbahasa Melayu.” (Soebagijo I.N., Jagad Wartawan Indonesia, 1981:545).

Bersuara Dari Negeri Penjajah

Polemik kontra Fokker itu sebetulnya bermula dari Abdul Rivai sendiri. Dalam artikel yang dimuat di koran berbahasa Belanda, Algemeen Handelsblad, sebelumnya, Rivai menulis panjang lebar mengenai pentingnya pendidikan untuk kaum bumiputera di Hindia (Indonesia).

Rivai menekankan, diperlukan buku-buku yang bermanfaat dan bersifat mengajar untuk “mendorong orang pribumi berpikir dan memperhatikan” dan ditulis dalam bahasa sehari-hari mereka (Harry A. Poeze, et.al., Di Negeri Penjajah: Orang Indonesia di Negeri Belanda 1600-1950, 2008:35).

Fokker, yang memang dikenal sebagai pakar bahasa Melayu, mengkritisi gagasan Rivai tersebut. Ia menyinggung tentang ragam bahasa Melayu yang harus digunakan dalam buku-buku yang diterbitkan untuk rakyat Hindia, khususnya untuk kaum bumiputera yang kala itu memang belum melek pendidikan.

Saling balas pendapat lewat tulisan berlangsung sengit selama beberapa waktu. Hingga kemudian Fokker mengklaim dirinya lebih fasih berbahasa Melayu daripada orang-orang Melayu kebanyakan yang akhirnya membuat Rivai benar-benar kesal dan nantinya memicu adu debat tersebut.

Kendati sangat mahir berbahasa Belanda, namun Rivai tetap menjunjung tinggi bahasa Melayu di era kolonial itu. Dari situlah, muncul gagasan untuk menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu justru ketika ia berada di Belanda.

Maka, terbitlah Pewarta Wolanda tepat pada 14 Juli 1900 dari Amsterdam (Ahmat Adam, The Vernacular Press and the Emergence of Modern Indonesian Consciousness 1855-1913, 1995:94). Inilah koran milik orang Indonesia pertama dengan bahasa Melayu yang diterbitkan dari mancanegara.


Abdul Rivai saat itu sedang melanjutkan studi kedokteran di Universitas Utrecht setelah sebelumnya lulus sekolah kedokteran bumiputera STOVIA di Batavia. Sebagai catatan, Rivai adalah orang Indonesia pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di luar negeri.

Berperan Ganda Demi Bangsa

Pulang ke Indonesia tahun 1901, Abdul Rivai sempat bekerja sama dengan Henri Constant Claude Clockener Brousson, mantan tentara Belanda yang juga seorang jurnalis, menerbitkan Bandera Wolanda. Koran ini merupakan peleburan dari Pewarta Wolanda milik Rivai dan Soerat Chabar Soldadoe yang diterbitkan Brousson.

Tak sampai setengah tahun, Rivai dan Brousson terpaksa mundur dari keredaksian Bandera Wolanda. Dimuatnya artikel sensitif dengan judul “Agama Protestan dan Islam” pada edisi Juni 1901 memantik reaksi keras dari sejumlah kalangan (Taufik Rahzen, dkk., Kronik Kebangkitan Indonesia: 1908-1912,2008:127). Sepeninggal Rivai dan Brousson, Bandera Wolandaperlahan-lahan melemah.

Rivai tak jera. Berkat relasinya yang terjalin baik dengan orang-orang berpengaruh di negeri Belanda, terutama dari kalangan pendukung politik etis, ia memperoleh dana dari Kementerian Urusan Jajahan Hindia Belanda untuk menerbitkan koran baru bernama Bintang Hindia yang diluncurkan pada Juli 1902.

Bersama Bintang Hindia, Rivai kini berperan bak agen ganda. Walaupun didanai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, Rivai menjadikan korannya itu untuk mencerahkan kaum bumiputera. Rivai ingin menjadikan Bintang Hindia sebagai media untuk menyuarakan ide tentang kemajuan moral dan sosial orang-orang setanah-airnya.

Gagasan memajukan kaum bumiputera melalui pendidikan seperti yang telah diwacanakan Rivai sejak lama terakomodir lewat Bintang Hindia. Entah disadari oleh pemerintah kolonial yang membiaya penerbitannya, Bintang Hindia mampu memainkan perannya sebagai perumus jatidiri bangsa, tentunya Rivai ada di balik semua itu.

Melalui Bintang Hindia, Rivai mempopulerkan istilah “bangsa Hindia” dan “anak Hindia”, yang secara psikologis menanamkan rasa kebangsaan di kalangan bumiputera. Kelak, ketika wacana nasionalisme kian matang, istilah “bangsa Hindia” lantas berubah menjadi “bangsa Indonesia”, yang ditegaskan, misalnya, dalam Sumpah Pemuda 1928.

Bumiputera Lintas Talenta

Rivai bertahan cukup lama di Bintang Hindia hingga ia mengundurkan diri dari dewan keredaksian tahun 1907 karena ingin melanjutkan pendidikan kedokterannya. Ketiadaan Rivai membuat eksistensi koran ini meredup dan akhirnya gulung tikar pada 1910 (Ahmat Adam, 1995:111).

Lahir di Palembayan, Agam, Sumatera Barat, tanggal 13 Agustus 1871, Abdul Rivai adalah salah satu anak bumiputera yang dinilai paling cemerlang di akhir abad ke-19. Selain ulung sebagai jurnalis, ia juga punya catatan mengagumkan di ranah akademis. Rivai sekali lagi menorehkan rekor ketika diterima sebagai calon doktor atau Strata-3 (S3) di Universitas Genk, Belgia, pada 1908 (Abdul Rivai, Student Indonesia di Eropa, 2000:xvii).

Di kancah pergerakan nasional, Rivai juga pernah ambil bagian. Ia merupakan perintis pembentukan cabang Indische Partij (IP) di wilayah Sumatera. IP sendiri adalah organisasi pergerakan berhaluan keras yang didirikan oleh tiga serangkai, yakni Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat alias Ki Hadjar Dewantara, dan Ernest Douwes Dekker pada 1912.

Usai IP dibubarkan paksa oleh pemerintah kolonial pada pertengahan 1913, Rivai ikut bergabung dengan organisasi pergerakan penerusnya, yakni Insulinde. Bahkan, Rivai nantinya terpilih sebagai anggota Volksraad atau Dewan Rakyat Hindia (semacam parlemen/DPR) mewakili Insulinde.

Rivai sempat berkelana ke berbagai negara, dari Amerika hingga Eropa, selama beberapa tahun hingga menetap di Belanda. Ia pun menjadi mentor bagi pemuda Indonesia yang menempuh studi di sana, seperti Mohammad Hatta, Ali Sastroamidjojo, Abdoelmadjid Djajadiningrat, Nazir Datoek Pamoentjak, dan lainnya.

Tahun 1932, Rivai kembali ke tanah air dan membuka klinik pengobatan di Tanah Abang, Batavia, sembari terus menulis untuk sejumlah surat kabar. Namun, di tahun-tahun berikutnya, penyakit mulai menggerogoti raganya. Rivai pun menyepi ke Bandung hingga wafat pada 16 Oktober 1937, tepat hari ini 81 tahun lalu, dalam usia 66.

Rivai merupakan sosok langka bagi kalangan bumiputera saat itu. Visinya jauh ke depan melebihi zamannya. Ia juga multiperan dan lintas talenta, dari dokter, jurnalis, hingga aktivis pergerakan. Maka tak heran jika Soetomo, salah seorang tokoh penting Boedi Oetomo (BO), sangat kehilangan atas mangkatnya Rivai, dengan menulis:

“Dengan meninggalnya Dr. Abdul Rivai, maka seorang manusia yang aneh dan luar biasa telah meninggalkan kita. Dr. Rivai harus dihitung di kalangan mereka yang membuka jalan ke Indonesia baru, ke Indonesia di hari yang akan datang.”

(tirto.id – Humaniora)

Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here